Kenapa Anak Suka Bolos Sekolah?

by - June 06, 2017

Blog dr.Dini - Sahabats, Anda pasti sering menyaksikan betapa banyak anak sekolah yang suka bolos sekolah. Dari rumah, mereka berpamitan untuk pergi ke sekolah tapi mereka tidak sampai ke sekolah. Mereka memilih nongkrong bareng teman-temannya di mall atau di sudut-sudut jalan.

anak suka bolos sekolah, bolos sekolah

Anak suka bolos sekolah sering kita temui terutama di kota-kota besar. Sebenarnya kenapa anak suka bolos sekolah? Adakah faktor psikologis yang mendasarinya?

Ternyata memang banyak pengaruh dari berbagai faktor yang bisa menjadi penyebab anak bolos sekolah. Di antara berbagai faktor risiko anak suka bolos sekolah, faktor psikologis yang paling banyak berperan.

Berdasarkan hasil penelitian "The Risk and Protective Factors of School Absenteeism" yang ditulis oleh Rajeevan Rasasingham, University of Toronto, Canada dan Harvard University, Cambridge, MA, USA, menunjukan bahwa perilaku membolos (truancy) dan school refusal behavior, atau kita sebut absenteeism, memiliki faktor risiko yang mendukung terjadinya perilaku suka membolos tersebut.


   Berikut ini adalah faktor risiko anak suka membolos sekolah.

1. Faktor Fisik dan Psikologis Individual
 
Anak-anak sekolah yang sering absen biasanya mempunyai gangguan psikologis dalam dirinya berupa gangguan kecemasan, gangguan afektif, perilaku antisosial, dan depresi.

Meskipun ditemukan pula anak-anak yang sering absen ini tidak mempunyai gangguan kejiwaan, namun anak yang suka membolos harus mendapatkan  perhatian khusus apalagi jika siswa tersebut absen lebih dari 20 hari tiap semesternya.
 
Selain gangguan psikologis, siswa juga dapat absen dari kelasnya karena gangguan kesehatan secara fisik. Namun dalam hal ini, kita tidak sedang membahas anak yang membolos sekolah akibat gangguan kesehatan fisik ini.

Siswa yang mendapat nilai jelek, ketinggalan pelajaran, dan pencapaian prestasi yang rendah, akibat sering absen dari kelasnya,  akan merasa frustasi dan akhirnya merasa putus asa dan kurang bersemangat untuk mengejar ketinggalannya.

Akhirnya siswa tersebut akan mengulangi sikap membolos sekolah ini yang berujung pada kegagalan secara akademis (academic disengagement).

2. Suasana Sekolah
 
Menurut Stickney dan Miltenberger, 1998, Tingkat keparahan siswa yang suka membolos sekolah terkait dengan lingkungan sekolah yang dalam persepsi mereka tidak aman dan tidak nyaman, kurangnya pengamatan dan dukungan pengajar/guru dalam membimbing siswa di sekolah, peraturan tentang kedisiplinan sekolah yang tidak konsisten, dan masalah dalam hubungan interpersonal antar teman atau guru.(Shochet et al, 2006).

Masalah antar siswa ini dapat berupa tindak kekerasan verbal, kekerasan fisik, diskriminasi sosial, dan penindasan.
 
Sebaliknya, dalam lingkungan sekolah yang positif, hubungan interpersonal yang baik di sekolah, jumlah siswa yang membolos sangat minim.

3. Keterlibatan Keluarga
 
Sebuah penelitian menghasilkan terdapatnya korelasi antara sikap suka membolos sekolah dan pengaruh keluarga.

Peran orangtua yang efektif dalam membimbing dan mendukung aktivitas anak di sekolah, mengembangkan bakat dan potensi yang dimiliki anak, sangat berpengaruh dalam melindungi anak dari 'kenakalan' dalam hal ini misalnya membolos sekolah.

4. Latar Belakang Keluarga
 
Penelitian McShane et al, 2001, menunjukan bahwa anak remaja yang sering membolos sekolah biasanya berasal dari keluarga yang bercerai atau keluarga yang penuh konflik (43%), anak yang mempunyai bunda dengan gangguan psikologis (53%) atau ayah dengan gangguan psikologis (34%), atau anak yang orangtuanya bekerja dengan jam kerja yang tidak biasa misalnya jaga malam atau bekerja saat hari libur.

5. Faktor Lingkungan Tempat Tinggal
 
Kesehatan mental seseorang dipengaruhi oleh karakteristik lingkungan tempat tinggal mereka seperti faktor sosial ekonomi, lingkungan di sekitar rumah, kepadatan lingkungan tempat tinggal, dan pola pergaulan di lingkungan sekitar rumah.
 
Dalam lingkungan kelas sosial ekonomi rendah sering terjadi perilaku yang kurang positif, anak-anak lebih mudah mengalami tindak kekerasan verbal maupun fisik, ketidakteraturan yang kerap terjadi pada lingkungan kumuh padat penduduk, dan biasanya mereka kurang bersemangat untuk bersekolah karena minimnya pengharapan mereka akan masa depan yang cerah, terkait dengan keadaan sosial ekonomi keluarga.

  

You May Also Like

0 komentar

Terima kasih sudah meninggalkan jejak. Untuk mendapatkan kunjungan balik, silakan gunakan Name/URL. Komentar akan dipublikasi setelah dimoderasi. Komentar berupa link aktif atau spam tidak akan muncul.

Recommended for You

loading...
Copyright 2017.Blog dr.Dini.All Right Reserved. Powered by Blogger.