GERD pada Bayi

by - May 10, 2017

Blog dr.Dini - Istilah bayi gumoh setelah selesai minum ASI bernama ilmiah GERD (GastroEsophageal Reflux Disease), yaitu gangguan pencernaan kronis yang disebabkan oleh aliran abnormal asam lambung dari lambung kembali lagi ke kerongkongan.Gastro berarti lambung, Esophageal berarti kerongkongan, dan Reflux artinya mengalir kembali.  

gerd, gumoh, bayi gumoh
 
Maka GERD berarti kembalinya asam lambung,  makanan dan cairan,dari dalam lambung ke kerongkongan.
GERD pada bayi sangat umum terjadi. Namun, GERD ternyata tidak hanya terjadi pada bayi, GERD juga bisa dialami oleh orang dewasa.  

Ini adalah penyebab paling sering dari muntah selama masa bayi dan biasanya tidak menimbulkan masalah pada bayi. Namun, GERD pada bayi yang berkelanjutan terus biasanya dapat menimbulkan masalah bila terjadi pada anak yang lebih besar.
 

Mengapa bisa terjadi GERD pada bayi ?

 
GERD pada bayi terjadi akibat aktivitas sfingter esofagus/kerongkongan bawah (lower esophageal sfincter) membuka terlalu lama saat makanan mencapai lambung sehingga terjadi refluks asam dan makanan tersebut dari lambung ke kerongkongan yang menyebabkan bayi gumoh, atau muntah.  

Pada keadaan normal , Sfingter kerongkongan bawah ini membuka untuk membiarkan makanan masuk ke dalam perut dan menutup untuk menjaga makanan di perut agar tidak kembali ke kerongkongan.

Selain bayi yang hanya mengkonsumsi ASI, GERD terjadi pada semua usia, dan banyak dipengaruhi oleh faktor makanan.
 
Beberapa makanan yang mempengaruhi otot sfingter esofagus/kerongkongan bagian bawah, yang memungkinkannya untuk tetap terbuka lebih lama dari biasanya, adalah sbb.
  1. Coklat 
  2. Permen
  3. Makanan tinggi lemak
  4. Makanan asam, misalnya jeruk
  5. Tomat dan saus tomat
Faktor lain yang bisa memicu terjadinya GERD pada bayi adalah:
  1. Kegemukan,
  2. Obat-obatan misalnya antihistamin, antidepresan, dan obat anti nyeri, dan
  3.  Paparan asap tangan kedua,
Isi lambung yang naik ke kerongkongan pada bayi dan anak-anak yang terserang GERD dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan bagian atas (trakea), yang dapat memicu terjadinya asma dan / atau pneumonia. 

GERD pada bayi dan anak-anak yang lebih besar dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan bayi dan anak-anak akibat nutrisi yang terbuang. Apalagi jika muntah-muntahnya cukup sering terjadi.

Peradangan (esophagitis) atau luka (ulcus), yang terbentuk di kerongkongan karena kontak dengan asam lambung, bisa menyakitkan dan menyebabkan perdarahan. Jika perdarahan lumayan hebat dapat menyebabkan anemia.  

Peradangan pada kerongkongan yang berlangsung lama (chronic esophagitis) dapat menyebabkan penyempitan saluran kerongkongan (esophageal stricture) dan Barret esophagus.  

Penyempitan saluran kerongkongan menyebabkan penderitanya sulit untuk menelan makanan. Sedangkan pada Barret esophagus sel-sel normal di dinding kerongkongan berubah menjadi sel-sel abnormal.

Asam lambung naik ke kerongkongan dapat dirasakan penderita seperti rasa terbakar terbakar yang dimulai di belakang tulang dada dan bergerak ke atas ke leher dan tenggorokan, kadang-kadang dapat disertai rasa mulas dan nyeri dada. 

Gejala ini akan lebih terasa setelah makan. Berbaring sesaat setelah makan tidak dianjurkan karena dapat memicu terjadinya GERD ini. Pada bayi yang baru mengkonsumsi ASI, hendaknya diposisikan vertikal (digendong posisi tegak) agar tidak memicu terjadinya GERD pada bayi.

Kebanyakan anak usia kurang dari 12 tahun yang didiagnosis dengan GERD akan mengalami batuk kering, gejala asma, atau kesulitan menelan. 

Selain itu bayi atau anak-anak dapat mengalami gejala GERD yang lain berupa bersendawa, mulas/sakit perut, rewel ketika makan, penolakan untuk makan, sering muntah, cegukan, tersedak, batuk kering, batuk di malam hari, mengi (nafas bunyi ngik ngik), sering pilek, sering mengalami infeksi telinga, rasa asam di mulut, atau sering sakit tenggorokan pada pagi hari. 

Tiap anak akan mengalami gejala GERD yang berbeda.

Pemeriksaan apa yang dapat dilakukan untuk mengetahui adanya GERD?

1. Foto Rontgen Thorax. 


Sebuah tes diagnostik untuk mencari bukti aspirasi - pergerakan isi perut ke dalam paru-paru. 

2. Pemeriksaan seri Gastrointestinal. 

 

Sebuah tes diagnostik yang meneliti organ-organ bagian atas sistem pencernaan: kerongkongan, lambung, dan duodenum (bagian pertama dari usus kecil). 

Penderita menelan barium( cairan logam yang digunakan untuk melapisi bagian dalam organ sehingga akan terlihat pada foto rontgen) untuk mengevaluasi organ pencernaan apakah ada perlukaan/ulserasi atau adanya penyempitan/penyumbatan abnormal. 

3. Endoskopi. 


Sebuah tes yang menggunakan semacam selang kecil dan elastis dengan lensa kamera ditambah lampu cahaya di ujungnya (endoskopi) untuk memeriksa bagian dalam saluran pencernaan. 

Sampel jaringan dari dalam saluran pencernaan juga dapat diambil untuk pemeriksaan biopsi atau mikroskopik.

4. Studi manometri esofagus. 


Sebuah tes yang membantu menentukan kekuatan otot-otot di kerongkongan. Hal ini berguna dalam mengevaluasi gastroesophageal reflux dan menentukan kelainan lainnya. 

Sebuah tabung kecil dipandu ke lubang hidung, kemudian diteruskan ke tenggorokan, dan akhirnya ke kerongkongan. Tekanan otot kerongkongan kemudian diukur. 

5. Pemantauan pH. 


Untuk mengukur keasaman dalam kerongkongan. Hal ini membantu dalam mengevaluasi sejauh mana GERD. Sebuah tabung plastik tipis ditempatkan ke lubang hidung, dipandu ke dalam tenggorokan, dan kemudian ke kerongkongan. 

Tabung berhenti tepat di atas sfingter esofagus bagian bawah. Akhir tabung dalam kerongkongan mengandung sensor yang mengukur pH, atau keasaman. 

Ujung tabung luar tubuh terhubung ke monitor yang mencatat tingkat pH untuk jangka waktu 24- 48 jam. Pembacaan pH dievaluasi dan dibandingkan dengan aktivitas pasien dalam jangka waktu tertentu untuk membantu menentukan kemungkinan pemicu GERD. 

6. Studi pengosongan lambung. 


Sebuah tes yang dirancang untuk menentukan apakah makanan dalam lambung masuk ke usus kecil atau tidak. Bila proses pengosongan lambung tertunda, maka hal tersebut dapat memicu timbulnya GERD.

Inilah artikel tentang GERD pada Bayi. Jika Anda menyukai dan merasa bahwa artikel ini bermanfaat, Anda dapat berpartisipasi dalam pengembangan blog ini dengan cara klik tombol di bawah ini :

You May Also Like

0 komentar

Terima kasih sudah meninggalkan jejak. Untuk mendapatkan kunjungan balik, silakan gunakan Name/URL. Komentar akan dipublikasi setelah dimoderasi. Komentar berupa link aktif atau spam tidak akan muncul.

Recommended for You

loading...
Copyright 2017.Blog dr.Dini.All Right Reserved. Powered by Blogger.