Depresi pada Anak Remaja dan Sikap Ibu

by - May 19, 2017

Blog dr.Dini - Sebuah penelitian dari Department of Psychology, Isfahan Science and Research Branch, Islamic Azad University, Isfahan,Iran, May 6th 2014 menemukan sebuah korelasi antara sikap ibu terhadap perkembangan depresi anak remajanya. Penelitian ini dilakukan pada 260 orang anak remaja di sebuah SMA Isfahan di iran.


depresi pada anak remaja, pelanggaran anak remaja

Anak Remaja identik dengan pelanggaran. Dan sikap melanggar aturan pada remaja itu rata-rata selalu terjadi dan mempengaruhi hubungan anak kepada orangtuanya.

Tentu saja pelanggaran yang dilakukan anak remaja sangat variatif dari hal yang dapat ditoleransi oleh orangtua sampai hal yang orangtua mereka pikir kesalahan yang tidak bisa ditoleransi.

Kesalahan yang orangtua pikir " tidak bisa ditoleransi " terkadang membuat orangtua bersedih, merasa bersalah atas diri sendiri, terjebak dalam kemarahan dalam hati terhadap diri sendiri, terhadap anak,  dan terhadap lingkungan di sekitar anaknya, membahas kejadian itu dengan sang anak, dan  terus merenungkan, bagaimana itu bisa terjadi, kenapa anak Saya melakukan itu, dimana letak "bolong"nya, apa yang Saya lakukan selanjutnya, dan masih banyak lagi pemikiran orang tua tentang kesalahan yang dilakukan anaknya, semua itu tentunya demi kebaikan anak kita, bukan?

Tapi...Tahukah Anda bahwa ternyata sikap semacam itu dapat memicu terjadinya depresi pada anak remaja?

Dan terjadinya depresi pada remaja sangat erat hubungannya dengan pelanggaran berulang, berkurangnya prestasi belajar, hubungan yang buruk antara anak remaja dengan keluarga dan lingkungan, terganggunya kesehatan fisik dan psikologik anak, sampai yang terparah pemikiran anak akan bunuh diri,

Memang depresi pada anak tidak hanya dikaitkan dengan sikap ibu saja.

Karena banyak faktor lain yang dapat memicu terjadinya depresi seperti adanya riwayat depresi dalam keluarga, pengalaman hidup yang pahit, penindasan masa kecil, penyakit kronis, dan faktor risiko lainnya yang membuat anak tersebut merasa tidak berguna, tidak disayangi, dan tidak dihargai.

Kebanyakan yang mengalami depresi pada remaja adalah anak perempuan.

Kemungkinan terjadinya depresi pada anak laki-laki dan perempuan adalah sama, namun setelah pubertas, anak perempuan mempunyai risiko depresi dua kali lipat dibandingka anak remaja laki-laki.

Ini terkait dengan kedekatan anak perempuan kepada ibu, ketergantungannya yang lebih dominan dibandingkan anak laki-laki.

Maka ketika anak perempuan remaja melihat sikap ibu yang terus menerus merasa kecewa terhadap kesalahan yang diperbuatnya, maka hal itu akan memicu terjadinya depresi.

Hasil penelitian Mother Characters and Adolescence Depression ini adalah bahwa sikap perenungan ibu terhadap kesalahan atau pelanggaran yang dilakukan anak remaja meningkatkan terjadinya risiko depresi pada anak remaja.

Sebaliknya sikap ibu untuk mencoba mengerti dan memaafkan mengurangi risiko terjadinya depresi pada anak remaja.

Terkadang menghadapi anak remaja , para Orang Tua cenderung mengalami depresi. Namun mengetahui hal ini, sebaiknya Orang Tua dapat menyembunyikan perasaannya bahwa orang tua juga dapat mengalami stress terhadap kesalahan yang diperbuat anak remajanya, terlebih lagi jika kesalahan yang diperbuat lumayan berat.

Banyak penelitian menyimpulkan bahwa sikap orang tua yang mencoba mengerti beban anak dalam lingkungannya, memaafkan, mencoba mencari jalan keluar baginya bersama-sama, menasehatinya namun tidak menghakiminya, justru akan mendatangkan solusi yang baik.


You May Also Like

0 komentar

Terima kasih sudah meninggalkan jejak. Untuk mendapatkan kunjungan balik, silakan gunakan Name/URL. Komentar akan dipublikasi setelah dimoderasi. Komentar berupa link aktif atau spam tidak akan muncul.

Recommended for You

loading...
Copyright 2017.Blog dr.Dini.All Right Reserved. Powered by Blogger.