Bunuh Diri : Penyebab dan Faktor Risiko

by - May 10, 2017

Blog dr.Dini - Kita sering mendengar berita seseorang melakukan percobaan bunuh diri. Saya sering membayangkan bagaimana perasaan anggota keluarganya mengetahui kenyataan ini. Jika beruntung, percobaan bunuh diri tidak berhasil dan pelakunya masih bisa diselamatkan.

bunuh diri, penyebab bunuh diri, faktor risiko bunuh diri

Sebenarnya mengapa seseorang melakukan usaha bunuh diri ? Apa saja faktor risikonya?

Bunuh diri yang klasik terjadi dilakukan oleh mereka yang berada di umur pertengahan, lajang, berjenis kelamin laki-laki, tidak memiliki pekerjaan, baru saja kehilangan sesuatu yang berharga, dan tidak memiliki dukungan psikis dan sosial dari keluarga.
Namun, saat ini angka kejadian bunuh diri semakin meningkat terjadi pada usia muda, wanita, dan biasanya melibatkan seseorang yang dicintai.

Usaha bunuh diri terbanyak pada usia 24-44 tahun. Namun jika usaha bunuh diri dilakukan pada usia 55-64 tahun, biasanya ia sungguh-sungguh ingin bunuh diri.

Kebanyakan seseorang yang melakukan usaha bunuh diri sebenarnya tidak benar-benar ingin membunuh dirinya sendiri. Ada faktor kebimbangan (ambivalensi), ketidakmampuan menghadapi masalah, krisis kegelisahan emosi, dan rasa ingin diperhatikan.

Selain itu, usaha bunuh diri dapat juga dipicu oleh tekanan emosional dan kenyataan hidup yang tidak berpihak, yang paling utama adalah faktor keimanan yang lemah kepada Sang Maha Pencipta.

Faktor Risiko Bunuh Diri yang terjadi pada seseorang adalah sbb.


1. DEPRESI

Pada suatu penelitian, ternyata 3/4 orang yang bunuh diri menderita depresi sebelumnya. Biasanya orang yang depresi berhubungan erat dengan keputusasaan, dan keputusasaan ini yang mendasari seseorang mengambil tindakan untuk mengakhiri hidupnya.

Sebanyak 2/3 dari mereka yang mengalami depresi,  sebelum mengambil tindakan bunuh diri akan menceritakan maksudnya ini kepada orang lain. Jangan abaikan ketika teman terdekat Anda mengutarakan hal ini kepada Anda.

Sementara tanda-tanda klinis yang terlihat sebelum ia melakukan usaha bunuh diri adalah :
  1. Gangguan biologis : gangguan tidur, gangguan makan, penurunan berat badan, keluhan sakit kepala, gangguan pencernaan, dan rasa lelah,
  2. Gangguan emosi : gangguan suasana hati (mood) seperti sebentar-sebentar menangis, sedih, mudah tersinggung, gelisah, apatis, terlihat tidak memiliki harapan hidup.
  3. Gangguan kognitif : rasa rendah diri, rasa bersalah, kehilangan rasa empati terhadap keluarga, dan keinginan bunuh diri.
2. TEKANAN EMOSI & RASA PUTUS ASA

Adanya tekanan emosi dari dalam dirinya sendiri atau dari lingkungan adalah faktor pencetus seseorang untuk melakukan bunuh diri.

Ketegangan emosional seperti tengah menghadapi perceraian, rasa malu akibat perceraian yang berlebihan, penolakan dari orang yang dicintai, atau kematian seseorang yang dicintai bisa saja menimbulkan keputusasaan dalam jiwa seseorang.

Tambahan lagi jika ada masalah ekonomi yang berat seperti terlilit hutang, tagihan hutang makin lama makin membengkak berikut bunga hutangnya, kehilangan pekerjaan, kehilangan tempat tinggal (kebakaran), dan masalah penyakit medis yang tak kunjung sembuh.

Setiap orang yang percaya bahwa kesulitan yang menimpa dirinya tidak ada kemajuan, biasanya merupakan risiko tinggi untuk melakukan bunuh diri.

3. GANGGUAN JIWA

Keadaan panik akut pada skizofrenia (gangguan waham, halusinasi pendengaran) akan memperberat kecenderungan penderita skizofrenia untuk bunuh diri. Pada skizofrenia terdapat halusinasi pendengaran, di mana ia berhalusinasi mendengar kata-kata yang menyuruh dirinya untuk bunuh diri.

4. KELAINAN KEPRIBADIAN

Sebagian orang yang berkepribadian mudah histeris dan impulsif (bertindak cepat/spontan mengikuti gerakan hati) termasuk dalam kategori yang paling sering mempunyai kecenderungan untuk melakukan bunuh diri jika tidak berhasil menghadapi kenyataan berat yang menimpa dirinya.

Kelainan kepribadian yang menimbulkan kecenderungan seseorang untuk bunuh diri biasanya berada dalam lingkungan keluarga yang kacau balau, misalnya gangguan identitas, alkoholisme dalam keluarga, kekerasan dalam rumah tangga, atau anak hasil dari pernikahan incest (pernikahan sedarah).

5. OBAT & ALKOHOL

15-25% pecandu alkohol akan mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Kegelisahan dari dalam diri sendiri yang dipengaruhi oleh zat etanol dalam minuman beralkohol dapat memicu munculnya usaha bunuh diri.

Selain itu, beberapa jenis obat-obatan yang mempengaruhi pikiran atau emosi seseorang, bisa juga menjadi faktor pencetus adanya keinginan untuk bunuh diri.

6. KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

Kekerasan dalam rumah tangga baik secara fisik atau psikis meningkatkan risiko terjadinya bunuh diri.

Bentuk kekerasan lain dalam rumah tangga misalnya pembunuhan, yang sebenarnya diprovokasi oleh korban pembunuhan tersebut, akan memicu tindakan bunuh diri bagi pelaku pembunuhan karena rasa bersalah, tidak sanggup menanggung risiko, dan tidak dapat menahan rasa malu akibat membunuh.

Pada kekerasan dalam rumah tangga yang memicu tindakan bunuh diri, tidak semua orang yang bunuh diri terlihat depresi.

7. PERNAH MENCOBA BUNUH DIRI SEBELUMNYA

Seseorang yang sebelumnya pernah mencoba untuk membunuh dirinya untuk dapat mengatasi rasa takut, mencari perhatian sekitar, dan ingin mencari jalan pintas untuk menghadapi masalah, biasanya akan mengulangi bunuh diri pada suatu saat.

Secara statistik, percobaan bunuh diri yang tidak berhasil sebelumnya biasanya justru akan meningkatkan risiko terhadap adanya upaya bunuh diri yang sempurna, jika masalah mental yang mendasari tidak segera diobati.

8. RIWAYAT BUNUH DIRI DALAM KELUARGA

Jika terdapat anggota keluarga yang meninggal karena bunuh diri, biasanya akan meninggalkan khayalan bagi keluarga yang ditinggalkan untuk bisa berkumpul dengan keluarga yang dicintainya, yang akhirnya memicu seseorang melakukan tindakan bunuh diri.

Meskipun kebanyakan orang yang mencoba untuk bunuh diri itu sebenarnya tidak benar-benar ingin membunuh dirinya, namun setiap usaha bunuh diri yang tidak berhasil, tidak boleh dianggap bahwa tindakan tersebut hanya bertujuan untuk mencari perhatian semata.

Risiko untuk mengulangi tindakan bunuh diri tetap ada pada orang yang sebelumnya mencoba untuk bunuh diri.

Berkonsultasi dengan Ahli Jiwa adalah solusi yang tepat untuk mereka yang pernah berusaha untuk bunuh diri agar mereka dapat terbantu menghadapi masalah yang sedang dihadapinya dan juga mendapatkan pengobatan yang tepat jika ada gangguan kejiwaan yang mendasari tindakan bunuh diri tersebut.

Jika dalam keluarga dipenuhi keimanan dan ketakwaan pada Sang Pencipta disertai rasa saling mencintai, saling memperhatikan, dan saling mengasihi di antara anggota keluarga, Saya rasa hal seperti bunuh diri ini bisa dihindari sampai sejauh mungkin.






You May Also Like

0 komentar

Terima kasih sudah meninggalkan jejak. Untuk mendapatkan kunjungan balik, silakan gunakan Name/URL. Komentar akan dipublikasi setelah dimoderasi. Komentar berupa link aktif atau spam tidak akan muncul.

Recommended for You

loading...
Copyright 2017.Blog dr.Dini.All Right Reserved. Powered by Blogger.