Operasi Caesar dan Tubektomi

by - February 11, 2017


Blog dr.Dini - Apakah Anda berencana untuk melahirkan secara operasi caesar ? Banyak ibu-ibu yang memilih menjalani operasi caesar dengan berbagai alasan pribadi. Salah satu alasan untuk memilih persalinan caesar adalah untuk sekaligus melakukan kontrasepsi tubektomi.

Saya pun demikian. Saya memang tidak pernah merencanakan untuk memilih operasi caesar untuk melahirkan anak. Selagi keadaan kehamilan normal, kondisi fisik ibu sehat, dan kondisi janin sehat, Saya lebih menyukai dan merekomendasikan persalinan normal.

Namun, karena Saya berencana melakukan kontrasepsi mantap/medis operatif wanita atau disingkat dengan MOW, nama lain dari tubektomi, atas berbagai pertimbangan secara pribadi, Saya memilih persalinan dengan cara operasi caesar. 

Tubektomi biasanya dikenal masyarakat luas sebagai kontrasepsi steril, di mana steril pada wanita adalah tindakan dengan memotong atau menghalangi tuba falopii, yaitu jalan bertemunya sel sperma dan sel telur agar tidak terjadi kehamilan lagi.

Dan Inilah Ulasan Tentang Operasi Caesar dan Tubektomi.

Tindakan sterilisasi sebenarnya sudah dikenal sejak zaman dulu. Bapak Kedokteran, Hippocrates, menyebutkan bahwa pada zaman dahulu, tindakan steril ini dilakukan pada orang dengan penyakit jiwa. Atau sebagai hukuman pada laki-laki yang melakukan pemerkosaan.

Sekarang tindakan steril ini dilakukan secara sukarela sebagai bagian dari keluarga berencana. Tubektomi adalah tindakan sterilisasi yang dilakukan pada wanita.

Apakah tubektomi dilakukan hanya setelah melahirkan ?


Tubektomi bisa dilakukan kapan saja, tidak harus dilakukan hanya setelah melahirkan. Karena kemajuan teknologi, tubektomi yang dahulu memerlukan operasi besar, kini menjadi sangat minim risiko dengan luka sayatan sangat kecil di bawah pusar, penyembuhan yang relatif cepat, dan rasa nyeri yang minim (Minilaparotomi dan Laparoskopi).

Jika tubektomi tidak dilakukan setelah bersalin, maka biasanya dilakukan setiap waktu selama siklus menstruasi, untuk meyakini bahwa ibu tersebut tidak hamil. Atau dilakukan pada hari ke-6 sampai hari ke-13 dari siklus menstruasi (pada fase proliferasi).

Biasanya ibu yang sudah mantap dengan kontrasepsi ini menginginkan sterilisasi dilakukan pasca persalinan. Alasannya adalah karena khawatir akan sulit meluangkan waktu untuk sterilisasi dan akhirnya jika tidak segera melakukan kontrasepsi lain, akan terjadi kehamilan lagi.

Dan tidak harus dengan jalan operasi caesar untuk melakukan tubektomi pasca persalinan

Kontrasepsi tubektomi ini bisa dilakukan baik pada ibu yang melahirkan secara normal maupun caesar. Bedanya pada persalinan normal, tindakan tubektomi ini dilakukan beberapa hari atau sampai waktu yang ditentukan, setelah sang ibu melahirkan. Biasanya tubektomi di sini dilakukan dengan melakukan sayatan yang lebih kecil daripada sayatan yang didapatkan pada saat operasi caesar.

Menurut dr.H.Najib Budhiwardoyo, SpOG (2010), untuk ibu yang bersalin secara normal, biasanya sterilisasi dilakukan dengan minilaparotomi hari ke-2,  minggu ke-6, atau minggu ke-12 pasca persalinan.

Sementara pada ibu yang melahirkan secara caesar, tindakan tubektomi dilakukan pada saat yang sama, pada saat operasi caesar dilakukan. Keuntungannya adalah kita bisa melahirkan bayi sekaligus melakukan steril (tubektomi) dalam satu waktu (lebih praktis). Sementara kerugiannya adalah luka sayatan operasi caesar yang lebih besar.
 Kontrasepsi tubektomi ini sendiri baru boleh dilakukan oleh DSOG (Dokter Spesialis ObGyn) jika beberapa persyaratan yang terkait kondisi Ibu sudah terpenuhi.

Apa saja persyaratan untuk tubektomi atau MOW (Metode Operatif Wanita) ?


Syarat dilakukan prosedur MOW menurut Saiffudin (2002)  adalah sbb :

1. Syarat Sukarela

Syarat sukarela adalah pengetahuan pasangan suami istri tentang berbagai kontrasepsi lain, risiko, dan keuntungan kontrasepsi mantap serta pengetahuan tentang sifat permanen pada kontrasepsi ini. (Wiknjosastro, 2005)

2. Syarat Bahagia

Syarat bahagia dilihat dari adanya ikatan pernikahan yang sah dan harmonis, memiliki paling sedikit 2 orang anak yang sehat secara fisik dan mental, dan umur ibu sekurang-kurangnya adalah 25 tahun.

Meskipun syarat memiliki 2 orang anak dipenuhi untuk dapat melakukan tubektomi, namun menurut seminar Kuldoskopi Indonesia pertama di Jakarta (18-19 Desember 1972), sebaiknya tubektomi dilakukan pada seorang ibu yang memiliki syarat-syarat berikut ini :
  1.  Umur termuda ibu 25 tahun dengan jumlah anak hidup 4 orang,
  2.  Umur ibu sekitar 30 tahun dengan jumlah anak hidup 3 orang,
  3.  Umur ibu sekitar 35 tahun dengan jumlah anak hidup 2 orang.
Sedangkan anjuran melakukan sterilisasi pada Konferensi Perkumpulan untuk Sterilisasi Sukarela Indonesia (3-5 Juni 1976) di Medan, dapat dilakukan pada :
  1. Ibu dengan umur 25-30 tahun dengan jumlah anak hidup 3 orang atau lebih,
  2. Ibu dengan umur 30-35 tahun dengan jumlah anak hidup 2 orang atau lebih,
  3. Ibu dengan umur 35-40 tahun dengan jumlah anak hidup 1 orang atau lebih, dan
  4. Istri dengan umur suami paling sedikit 30 tahun, kecuali jika jumlah anak telah melebihi jumlah yang direncanakan oleh pasangan suami istri tersebut.
 3. Syarat Sehat

Setelah 2 syarat di atas terpenuhi, maka syarat sehat untuk melakukan tubektomi juga dipertimbangkan.

Diberlakukannya beberapa syarat untuk melakukan tubektomi ini adalah karena sifatnya yang permanen. Maka, tubektomi ini sebaiknya dilakukan dengan pemikiran yang sangat matang bagi pasangan suami istri yang sudah mantap dengan jumlah anak yang dimiliki saat ini.

Dan diharapkan dengan beberapa persyaratan di atas, pasangan suami istri ini tidak akan menyesal di kemudian hari. Bisa saja, jika pasangan suami istri ini ingin kembali menambah jumlah anak, yakni dengan melakukan rekanalisasi tuba.

Namun untuk melakukan rekanalisasi tuba diperlukan jalan operasi lagi dan hasil dari rekanalisasi tuba ini tidak sepenuhnya berhasil bahwa ibu bisa hamil lagi dengan mudah. Oleh karena itu, pikirkanlah masak-masak sebelum melakukan kontrasepsi mantap/MOW/tubektomi atau steril ini.

Apa Saja Keuntungan dan Kerugian Tubektomi ?

Keuntungan tubektomi atau kontrasepsi steril ini adalah :
  1. Kontrasepsi ini hanya dilakukan satu kali saja, sehingga tidak diperlukan tindakan yang berulang-ulang,
  2. Efektivitas hampir 100%,
  3. Tidak mempengaruhi hormon kewanitaan sehingga tidak akan mempengaruhi hasrat seksual, siklus menstruasi, dan waktu menopause,
  4. Tidak adanya kegagalan dari pihak ibu sehingga kehamilan yang tidak dikehendaki hampir tidak terjadi,
  5. Berkurangnya kekhawatiran akan terjadi kehamilan mungkin dapat meningkatkan hasrat seksual secara psikologis.
Sedangkan kerugian tubektomi adalah :
  1. Biaya relatif mahal untuk melakukan kontrasepsi ini,
  2. Sifatnya yang permanen, sehingga mungkin akan muncul perasaan menyesal di kemudian hari jika tubektomi ini tidak dipikirkan secara matang,
  3. Jika ibu yang melakukan steril ingin hamil lagi maka akan sulit untuk melakukan penyambungan (rekanalisasi) tuba kembali,
  4. Masih memerlukan alat kontrasepsi kondom untuk mencegah penularan penyakit IMS (infeksi menular seksual).
Sebagaimana tindakan operatif, tubektomi memiliki risiko baik karena tindakan anestesi ataupun tindakan operasinya.

Biasanya anestesi yang digunakan dalam tubektomi adalah anestesi epidural, di mana obat anestesi disuntikkan ke dalam tulang belakang, yang bisa menimbulkan efek samping mual, muntah, dan sakit kepala.

Sedangkan risiko tindakan operatif tubektomi adalah kemungkinan timbulnya perdarahan dan adanya infeksi. Namun risiko-risiko ini tergolong sangat jarang terjadi sehingga tindakan tubektomi ini relatif aman. 

Operasi Caesar dan Tubektomi

Perlu diingat bahwa kontrasepsi tubektomi ini dinyatakan HARAM, sepanjang yang Saya tahu. Saya melakukan kontrasepsi ini atas dasar faktor kesehatan secara medis.

Jadi, jika Anda Muslim, untuk kontrasepsi tubektomi ini, silakan berkonsultasi pada ulama atau ustadz terlebih dahulu. Dan apakah tubektomi ini dirasa perlu untuk dilakukan jika dilihat dari riwayat medis terkait kesehatan atau keselamatan sang ibu.

Misalnya, Jika sang ibu memiliki riwayat keguguran berulang dan telah memiliki jumlah keturunan yang dikehendaki, atau jika sang ibu tidak cocok menggunakan metode kontrasepsi yang lain sementara umur sang ibu sudah di atas 40 tahun.

Operasi Caesar tergolong operasi besar dengan risiko yang lebih besar ketimbang persalinan normal. Karena itu, Saya memang tidak merekomendasikan Anda menempuh cara persalinan caesar hanya untuk melakukan tubektomi.

Semuanya tergantung pada sudut pandang Anda. Jika bisa bersalin normal, maka itu lebih baik, karena sterilisasi bisa dilakukan hanya dalam 2 hari setelah bersalin, dengan luka sayatan yang lebih kecil dan tentu saja dengan masa penyembuhan yang lebih cepat.

Inilah artikel tentang Operasi Caesar dan Tubektomi. Terima kasih atas kunjungan Anda.

Jika Anda menyukai dan merasa bahwa artikel ini bermanfaat, Anda dapat berpartisipasi dalam pengembangan blog ini dengan cara klik tombol di bawah ini :

You May Also Like

0 komentar

Terima kasih sudah meninggalkan jejak. Untuk mendapatkan kunjungan balik, silakan gunakan Name/URL. Komentar akan dipublikasi setelah dimoderasi. Komentar berupa link aktif atau spam tidak akan muncul.

Recommended for You

loading...
Copyright 2017.Blog dr.Dini.All Right Reserved. Powered by Blogger.