Penyakit Tifus (Demam Tifoid)

by - October 05, 2016

demam tifoid, thypoid fever

Blog dr.Dini - Penyakit tifus (demam tifoid) tentu bukan suatu penyakit baru yang masih asing di dengar, sebaliknya penyakit tifus (demam tifoid) adalah penyakit yang banyak menimpa keluarga atau kerabat kita yang sudah akrab sekali kita dengar namanya.

Sebenarnya apa itu penyakit tifus (demam tifoid) ? Mari kita kenali lebih jauh yuk.


Penyakit tifus (demam tifoid) adalah penyakit infeksi akut yang menyerang usus halus. Penyakit tifus (demam tifoid) hampir sama gejalanya dengan penyakit paratifus (demam paratifoid) hanya saja kuman penyebabnya yang berbeda, meskipun tampak mirip.

Apakah penyebab penyakit tifus (Demam Tifoid) ?


Penyebab penyakit tifus (demam tifoid) adalah kuman/bakteri Salmonella typhi, Salmonella paratyphi A, Salmonella paratyphi B, dan Salmonella paratyphi C.

Penyebaran Penyakit Tifus (Demam Tifoid)


Penyakit tifus (demam tifoid) adalah penyakit endemis (banyak ditemukan) di Indonesia. Karena penyakit tifus (demam tifoid) adalah penyakit yang menular maka pernah suatu ketika di suatu daerah di negara kita, penyakit tifus (demam tifoid) ini menjadi wabah penyakit.

Penyakit tifus (demam tifoid) ini biasanya mudah ditemukan di suatu daerah secara terpencar-pencar. Meskipun penyakit tifus (demam tifoid) adalah penyakit menular, namun sayangnya sumber penularannya biasanya tidak ditemukan.

Sumber penularan penyakit tifus (demam tifoid) ini terutama berasal dari makanan dan minuman yang terkontaminasi dengan kuman Salmonella typhi.

Nah, mungkin timbul pertanyaan benak Anda, mengapa makanan dan minuman dapat terkontaminasi dengan kuman Salmonella typhi ?


Jadi kuman Salmonella typhi ini terdapat dalam tinja dan air kemih individu yang terkena penyakit tifus (demam tifoid). 

Ketika tempat pembuangan tinja dan air kemih ini mencemari tempat sumber makanan misalnya kebun sayuran, maka kemungkinan besar, sayuran yang dipanen dari kebun tersebut tercemar oleh kuman Salmonella typhi.

Jika sayuran tidak dicuci dan dimasak dengan baik, kuman Salmonella typhi ini masih hidup dan jika sayuran tersebut termakan oleh kita, bisa menjadi penyebab penyakit tifus (demam tifoid) saat daya tahan tubuh kita sedang menurun.

Kuman Salmonella typhi bukan saja terdapat dalam tinja dan air kemih individu yang sedang sakit tifus (demam tifoid) tapi bisa juga terdapat dalam tinja dan air kemih individu yang sudah sembuh dari penyakit tifus (demam tifoid) ini.

Individu yang sudah sembuh dari penyakit tifus (demam tifoid) tapi masih mengandung kuman Salmonella typhi dalam tinja dan air kemihnya disebut carrier. Biasanya kuman Salmonella typhi bertahan dalam tinja dan air kemih carrier ini selama satu tahun atau bahkan lebih.

Makanan yang dapat tercemar kuman Salmonella typhi bukan hanya sayuran saja, Bunda, namun jenis makanan lain misalnya ikan, daging, buah-buahan dapat tercemar kuman ini jika dicuci dengan air yang tercemar Salmonella typhi atau jika disimpan pada tempat penyimpanan yang juga tercemar kuman ini.

Begitulah kira-kira, perjalanan kuman Salmonella typhi sampai menjadi biang penyakit tifus (demam tifoid) pada manusia.

Faktor Risiko Penyakit Tifus (Demam Tifoid)


1. Lingkungan

Siapa saja dapat terserang penyakit tifus (demam tifoid) namun individu yang tinggal di lingkungan yang kurang bersih, sanitasi kurang baik, kebiasaan makan makanan di pinggir jalan yang kebersihannya kurang baik, serta daya tahan tubuh yang sedang menurun dapat mempermudah terjadinya penyakit tifus (demam tifoid) ini.

2. Umur

Di daerah yang banyak penderita penyakit tifus (demam tifoid), biasanya penderita penyakit tifus (demam tifoid) adalah anak-anak. Hal ini berhubungan pada daya tahan tubuh anak-anak yang belum terbentuk dengan sempurna.

Sedangkan pada orang dewasa, penyakit tifus (demam tifoid) ini sering menimbulkan gejala-gejala infeksi ringan saja seperti mual, muntah, demam malam hari, yang bisa hilang dengan sendirinya dan kemudian menjadi kebal terhadap penyakit ini. *Dengan catatan, daya tahan tubuh harus dalam kondisi prima.

Angka kejadian penyakit tifus (demam tifoid) adalah 70-80 % pada anak usia 12 tahun ke atas. Artinya, dari 100 orang yang kontak dengan kuman Salmonella typhi, sebanyak 70-80 orang anak usia 12 tahun ke atas, terserang penyakit tifus (demam tifoid).

Sedangkan, angka kejadian penyakit tifus (demam tifoid) pada individu usia 30-40 tahun hanya 10-20%. Dan pada dewasa usia 40 tahun ke atas, hanya 5-10%. 

3. Jenis kelamin

Tidak ada perbedaan yang nyata terhadap jenis kelamin, apakah laki-laki atau perempuan yang lebih dominan untuk terserang penyakit tifus (demam tifoid). Kemungkinan terjadinya tidak berdasarkan jenis kelamin.

4. Musim

Penyakit tifus (demam tifoid) dapat ditemukan sepanjang tahun.

Lalu bagaimanakah perjalanan kuman Salmonella typhi ini saat masuk ke dalam tubuh manusia untuk kemudian menimbulkan penyakit tifus (demam tifoid) ?

 

Kuman Salmonella typhi masuk ke dalam tubuh manusia saat makanan dan minuman yang dikonsumsi individu tersebut sudah tercemar. 

Saat masuk makanan dan minuman masuk ke dalam lambung, sebagian kuman akan mati, namun jika daya tahan tubuh individu tersebut kurang prima, maka sebagian kuman Salmonella typhi akan masuk ke dalam usus halus.

Kuman ini kemudian menembus lapisan usus halus, memasuki aliran getah bening, dan akhirnya berhasil masuk ke pembuluh darah dan mengikuti alur sirkulasi darah.

Pada saat kuman, mampu menembus usus halus, dapat terjadi perlukaan dan perdarahan pada usus halus. Dan gejala-gejala penyakit tifus (demam tifoid) mulai timbul.

Gejala Penyakit Tifus (Demam Tifoid)


Gejala-gejala penyakit tifus (demam tifoid) ternyata baru muncul setelah individu tersebut sudah terinfeksi selama 10-14 hari (masa tunas 10-14 hari). 

Gejala penyakit tifus (demam tifoid) yang biasanya muncul pada minggu pertama adalah sbb ;
  1. Demam sore-malam hari,
  2. Nyeri kepala,
  3. Pusing berputar,
  4. Nyeri otot (biasanya di otot betis dan leher belakang),
  5. Tidak nafsu makan,
  6. Mual,
  7. Muntah,
  8. Buang air besar tidak lancar,
  9. Kadang-kadang diare,
  10. Perasaan tidak enak di perut, dan
  11. Batuk .
Gejala penyakit tifus (demam tifoid) yang biasanya muncul pada minggu kedua adalah sbb ;
  1. Demam,
  2. Lidah tampak putih/kotor,
  3. Pembesaran hati (hepatomegali),
  4. Pembesaran limpa (splenomegali),
  5. Bahkan sampai ada gejala psikis seperti mengacau, selalu mengantuk (somnolen), atau koma.
Penyakit tifus (demam tifoid) jika tidak diobati dengan segera dapat menimbulkan komplikasi yang fatal (dapat menimbulkan kematian). 

Mengingat hal itu, jika anggota keluarga kita menderita demam lebih dari tiga hari, yang tidak kunjung turun dengan pengobatan biasa, segeralah konsultasikan pada Dokter.

Apa saja komplikasi penyakit tifus (demam tifoid) yang dapat timbul ?


Penyakit tifus (demam tifoid) dapat menimbulkan komplikasi yang fatal berupa kematian biasanya jika daya tahan tubuh terlalu lemah misalnya pada bayi, keadaan kekurangan gizi , atau telah menderita penyakit lainnya yang menyerang daya tahan tubuh seperti HIV. 

Komplikasi penyakit tifus (demam tifoid) yang dapat timbul pada usus adalah sbb ;
  1. Perdarahan
  2. Perforasi (Usus halus berlubang), dan
  3. Ileus paralitik (Usus tidak bisa berkontraksi sehingga penderita penyakit tifus tidak dapat buang air besar atau bahkan buang gas).
Sedangkan komplikasi penyakit tifus (demam Tifoid) yang terjadi di luar usus halus adalah sbb ;
  1. Komplikasi pada jantung yaitu kegagalan jantung untuk melakukan peredaran darah di seluruh tubuh dan radang otot jantung (miokarditis),
  2. Komplikasi pada darah yaitu terjadinya anemia dan penurunan kadar trombosit darah (trombositopenia), 
  3. Komplikasi paru-paru yaitu pneumonia (radang paru-paru), empiema (mengumpulnya nanah/kuman pada jaringan paru), dan pleuritis (radang selaput pleura),
  4. Komplikasi hati dan kandung empedu yaitu timbulnya hepatitis atau kolestitis (radang pada kandung empedu),
  5. Komplikasi saraf dan kejiwaan yaitu timbulnya gejala kebingungan (delirium), meningitis (radang selaput otak), dan gangguan jiwa (psikosis),
  6. Komplikasi tulang yaitu radang tulang atau radang sendi (artritis), dan
  7. Komplikasi ginjal yaitu radang pada ginjal (glomerulonefritis, pielonefritis, dan perinefritis).

Pengobatan Penyakit Tifus (Demam Tifoid)


Mengetahui bahwa komplikasi penyakit tifus (demam tifoid) ini bukan main-main, maka penderita penyakit tifus (demam tifoid) memang harus dirawat dengan penuh perhatian. Mulai dari tirah baring baik di rumah atau di rumah sakit, pengobatan antibiotik yang teratur, dan pemilihan diet makanan yang tepat.

1. Tirah Baring

Biasanya jika seseorang terserang penyakit tifus (demam tifoid) dan keadaan umumnya sudah mulai menurun, maka ia akan dirawat di rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif, terutama jika gejala muntah-muntah sudah hebat sehingga makanan tidak lagi dapat masuk melalui mulut.

Tirah baring perlu dilakukan sampai 7 hari bebas demam untuk mencegah terjadinya komplikasi perdarahan usus. 

2. Antibiotik

Pengobatan untuk membunuh kuman Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi adalah antibiotika. Antibiotika biasanya akan diresepkan oleh Dokter untuk beberapa hari lalu Dokter akan menganjurkan untuk kontrol kembali jika Anda melakukan rawat jalan.

Tujuan melakukan kunjungan Dokter kembali adalah bahwa Dokter perlu melihat apakah kondisi pasien sudah terbebas dari demam untuk kemudian meresepkan obat antibiotika selama 7 hari setelah bebas demam.

Pemberian antibiotik dilakukan dengan cara diminum (oral) jika penderita tidak muntah-muntah, atau diberikan dengan cara disuntik (intravena) ke pembuluh darah atau melalui jalur infus jika penderita penyakit tifus (demam tifoid) dirawat di rumah sakit.

Ingat, minumlah obat antibiotika yang diresepkan Dokter sampai habis untuk mencegah kuman Salmonella menjadi kebal terhadap antibiotika tersebut dan supaya penyakit tifus (demam tifoid) dapat segera disembuhkan dengan total.

3. Pemilihan Diet Makanan

Diet makanan yang baik untuk penderita penyakit tifus (demam tifoid) adalah makanan lunak (bubur) dan diet rendah serat. Hindarilah sayuran dan buah yang mempunyai serat kasar.

Setiap orang yang terinfeksi Salmonella, akan mengeluarkan kuman tersebut melalui tinja dan air kemihnya selama 3 bulan setelah sembuh. 

Jika setelah sembuh selama 3 bulan, tetapi individu tersebut masih mengeluarkan kuman Salmonella dalam tinja dan air kemihnya, maka mereka disebut sebagai carrier.

Carrier ini memegang peranan yang cukup penting dalam alur penularan penyakit tifus (demam tifoid) sehingga penyakit tifus (demam tifoid) dapat mudah ditemukan di manapun.

Inilah artikel tentang Penyakit Tifus (Demam Tifoid). Semoga bermanfaat. Salam sehat selalu. 



















You May Also Like

0 komentar

Terima kasih sudah meninggalkan jejak. Untuk mendapatkan kunjungan balik, silakan gunakan Name/URL. Komentar akan dipublikasi setelah dimoderasi. Komentar berupa link aktif atau spam tidak akan muncul.

Recommended for You

loading...
Copyright 2017.Blog dr.Dini.All Right Reserved. Powered by Blogger.