Dampak Kekerasan Dalam Rumah Tangga Selama Kehamilan

by - August 19, 2016

KDRT hamil, kekerasan dalam rumah tangga dan kehamilan

Blog dr.Dini -  Kekerasan dalam rumah tangga selama kehamilan dapat terjadi pada ibu hamil.. Kekerasan dalam rumah tangga yang dialami ibu hamil bukan hanya melanggar hak asasi manusia namun juga berisiko terhadap kehamilan ibu dan kesehatan janinnya.

Organisasi Kesehatan Dunia, WHO telah melaporkan bahwa ternyata lebih dari 90% wanita hamil pernah mengalami kekerasan dalam rumah tangga selama masa kehamilannya.

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan di negara Swedia dan dilansir oleh BMC Pregnancy and Chuldbirth, 2016, kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi selama kehamilan adalah berupa kekerasan emosional, kekerasan fisik, dan kekerasan seksual.

Sesuai definisi menurut WHO, kekerasan dalam rumah tangga selama kehamilan adalah kekerasan fisik, psikologis, emosional, atau seksual atau ancaman kekerasan fisik dan seksual pada ibu hamil yang dilakukan oleh suami, orang tua, saudara kandung, atau orang yang sangat dikenal keluarga, di mana kekerasan itu terjadi ketika di dalam rumah.

Faktor risiko terjadinya kekerasan dalam rumah tangga selama kehamilan yaitu :
  1. Pernah mengalami kekerasan dalam rumah tangga sebelum kehamilan,
  2. Jauh dari keluarga,
  3. Kehamilan yang tidak diinginkan,
  4. Tingkat pendidikan yang rendah,
  5. Tingkat sosial ekonomi yang rendah, dan
  6. Adanya penyalahgunaan alkohol atau narkotika oleh pelaku.
Kekerasan dalam rumah tangga yang dialami oleh seorang wanita selama kehamilan tentu saja mempunyai dampak yang sangat besar bagi kesejahteraan ibu hamil dan kesehatan janin yang dikandungnya.

Salah satu dampak yang bisa terjadi pada ibu akibat kekerasan dalam rumah tangga selama kehamilan adalah gangguan kejiwaan. Gangguan kejiwaan akibat kekerasan dalam rumah tangga selama kehamilan adalah gangguan cemas, gangguan depresi, dan gangguan stres pasca trauma.

Selain gangguan kejiwaan, dampak yang bisa terjadi akibat kekerasan dalam rumah tangga selama kehamilan yaitu :
  1. Adanya peningkatan risiko melahirkan bayi prematur,
  2. Adanya peningkatan risiko melahirkan bayi berat lahir rendah, atau
  3. Adanya trauma perut secara mendadak yang mengakibatkan kematian ibu dan janin.
Mengingat begitu besarnya dampak akibat kekerasan dalam rumah tangga selama kehamilan, lalu timbul pertanyaan dalam benak saya. Mengapa angka yang dilaporkan WHO begitu besar, yaitu 90% untuk ibu hamil yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga.

Hal ini mengingatkan Saya, bahwa Saya pernah menemui seorang ibu hamil yang saat itu datang dengan luka memar yang berat di kepala dan dada. Seorang ibu tersebut hendak berobat karena lukanya itu. Waktu Saya bertanya apa yang terjadi, Ia tidak mengatakan apa-apa.

Lalu tak lama kemudian, datanglah keluarga dari pihak ibu hamil tadi. Mereka ribut-ribut sambil bercerita bahwa Ibu hamil ini terluka karena dilempar kursi oleh suaminya akibat pengaruh alkohol.

Keluarga ibu hamil ini hendak melaporkan kasus ini ke polisi dan meminta dokter untuk melakukan visum et repertum. Hal yang paling mengejutkan Saya adalah bahwa si Ibu tidak ingin melaporkan suaminya ke polisi.

Alasannya adalah karena Ia memiliki anak-anak yang harus dibiayai jadi si Ibu tidak ingin suaminya ditangkap karena Ia bingung untuk menafkahi anak-anaknya.

Kasus serupa mungkin banyak ditemui di fasilitas-fasilitas kesehatan di mana kejadian kekerasan dalam rumah tangga selama kehamilan banyak dijumpai.

Kecurigaan petugas medis yang memeriksa Ibu hamil saat kunjungan ANC (Antenatal Care) bisa diketahui dengan adanya luka memar disertai dengan sikap bungkam si Ibu hamil saat ditanyakan penyebabnya.

Faktor yang menjadi penyebab korban dalam hal ini ibu hamil yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga selama kehamilan untuk tetap diam adalah di samping ketergantungan secara sosial ekonomi, juga akibat rasa takut pada suami jika mengungkapkan hal yang terjadi padanya.

Juga, rasa malu karena menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga mencegah ibu hamil menceritakan pengalaman pahitnya selama kehamilan.

Alasannya Saya menulis artikel ini adalah untuk berbagi pengalaman Saya saat bertemu dengan Ibu hamil yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga.

Dengan mengetahui dampak yang bisa terjadi, diharapkan jika ada Ibu hamil yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga membaca artikel ini dapat membuka mata dan mencari pertolongan agar kekerasan dalam rumah tangga terutama saat kehamilan tidak pernah terjadi lagi.

Semoga kekerasan dalam rumah tangga baik selama kehamilan maupun di luar kehamilan bisa berkurang atau bahkan hilang seiring dengan majunya pola pikir, tingkat pendidikan yang tinggi, dan faktor kemandirian seorang wanita dalam hal finansial.

Bukankah pernikahan itu untuk mendapatkan kebahagiaan lahir dan batin.

Inilah informasi tentang Dampak Kekerasan dalam Rumah Tangga Selama Kehamilan. Semoga bermanfaat.





You May Also Like

0 komentar

Terima kasih sudah meninggalkan jejak. Untuk mendapatkan kunjungan balik, silakan gunakan Name/URL. Komentar akan dipublikasi setelah dimoderasi. Komentar berupa link aktif atau spam tidak akan muncul.

Recommended for You

loading...
Copyright 2017.Blog dr.Dini.All Right Reserved. Powered by Blogger.