Penyakit Hirschsprung Neonatus: Gejala, Diagnosis, dan Terapi

by - May 20, 2016

hirschsprung, hirschsprung disease, hirschsprung neonatus

Web Bunda - Penyakit Hirschsprung neonatus adalah penyakit yang menyebabkan penyumbatan aliran makanan dalam usus pada bayi dalam 1 bulan pertama kehidupannya. Pernahkah Bunda mendengar nama penyakit Hirschsprung neonatus ini?

Penyakit Hirschsprung neonatus ini diperkirakan terjadi pada 1 bayi baru lahir (neonatus) di antara 5000-10.000 kelahiran. Dan penyakit Hirschsprung neonatus ini lebih banyak dijumpai pada bayi berjenis kelamin laki-laki dibandingkan dengan bayi berjenis kelamin perempuan.

Penyakit Hirschsprung neonatus ini terjadi ketika di dalam lapisan dinding usus bayi tidak terdapat ganglion saraf Meissner dan ganglion saraf Aurbach, mulai dari sfingter anus ke arah usus bagian atasnya (proksimal).

Absennya ganglion saraf pada penyakit Hirschsprung neonatus ini bahkan bisa terjadi mulai dari sfingter anus bayi sampai ke seluruh usus besar dan usus halus. Ketiadaan ganglion saraf pada dinding usus menyebabkan usus yang bersangkutan tidak memiliki gaya dorong untuk mengalirkan makanan ataupun kotoran/tinja.

Tidak terdapatnya ganglion saraf sampai ke usus halus akan menyebabkan makanan tidak berhasil melewati saluran usus halus dan tidak terserap dengan sempurna. Sehingga bayi tidak dapat menyerap seluruh nutrisi yang terdapat dalam makanan dan akhirnya mengalami malnutrisi (kurang gizi).

Penyakit Hirschsprung neonatus terbanyak hanya sampai sebatas usus besar di mana ketiadaan ganglion saraf Meissner dan ganglion saraf Aurbach ini akan menghambat aliran kotoran/tinja dan gas yang harusnya bisa keluar melalui anus bayi.

Lama-lama kelamaan, jika tidak segera mendapat terapi yang sesuai, penyakit Hirschsprung neonatus ini akan membuat perut bayi penuh dengan tinja. Perut bayi akan tampak membuncit dengan konsistensi keras karena tinja yang menumpuk dalam usus.

GEJALA PENYAKIT HIRSCHSPRUNG NEONATUS

1. Keterlambatan Pengeluaran Mekonium

Mekonium adalah kotoran/tinja/feses yang pertama kali dikeluarkan dari anus bayi setelah bayi dilahirkan. Mekonium berwarna hitam kehijau-hijauan, pekat, lengket, dan kental.

Mekonium umumnya tidak berbau karena mekonium terdiri dari cairan ketuban, lanugo (rambut-rambut halus dari tubuh bayi), cairan empedu, dan lendir.

Pengeluaran mekonium pada bayi baru lahir normalnya terjadi sebelum 24 jam pertama kehidupannya. Jika pengeluaran mekonium terlambat, lebih dari 24-48 jam, biasanya terkait dengan penyumbatan usus bayi, seperti pada penyakit Hirschsprung neonatus.

2. Muntah Berwarna Hijau

Bayi muntah berwarna hijau akibat ASI atau susu formula tidak dapat diserap dengan baik. Bayi muntah berwarna hijau biasanya karena isi perut bayi sudah penuh dengan tinja/feses.

3. Perut Buncit

Perut buncit dengan konsistensi keras adalah tanda distensi usus akibat tinja dan udara yang terjebak di dalamnya. Bayi tidak dapat buang air besar dan tidak dapat buang gas (kentut).

Biasanya bayi dengan distensi perut akibat penyakit Hirschsprung neonatus ini akan mereda jika dilakukan tindakan colok dubur di rumah sakit. Yaitu, saat dilakukan tindakan colok dubur, tinja/mekonium yang terjebak dapat keluar melalui anus, bayi dapat kentut, dan bayi tidak muntah lagi.

Tapi gejala kesulitan buang air besar, muntah hijau, dan perut buncit akan terulang lagi esok harinya.

Jika bayi dengan penyakit Hirschsprung neonatus ini tidak segera ditangani oleh Dokter, biasanya bayi akan meninggal dunia karena infeksi.

DIAGNOSIS PENYAKIT HIRSCHSPRUNG NEONATUS

Bayi dengan gejala-gejala tersebut di atas, akan melalui beberapa pemeriksaan untuk memastikan diagnosis penyakit Hirschsprung neonatus . Pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah pemeriksaan rontgen/ radiologi foto polos abdomen atau foto dengan enema barium.

Hasil pemeriksaan radiologi tersebut dapat terlihat adanya penyumbatan usus letak bawah, yang ditandai dengan rongga usus yang terkena akan mengecil disertai rongga usus yang besar sekali di atasnya (usus yang sehat) akibat penumpukkan tinja.

Pemeriksaan patologi anatomi (mikroskopis) juga dapat dilakukan untuk menilai apakah di dalam lapisan mukosa usus besar (rektum) tidak terdapat ganglion saraf Meissner dan Aurbach.

TERAPI PENYAKIT HIRSCHSPRUNG NEONATUS

Terapi penyakit Hirschsprung neonatus ini hanyalah pembedahan, Bunda. Tidak ada obat-obatan yang dapat mengatasi penyakit ini.

Pembedahan akan dilakukan untuk memotong bagian usus yang tidak memiliki ganglion saraf Meissner dan Aurbach untuk kemudian menyatukan kembali bagian-bagian usus yang memiliki ganglion saraf tersebut.

Konsultasikan hal ini pada Dokter Spesialis Bedah Anak.

Semoga  artikel Penyakit Hirschsprung Neonatus ini bermanfaat, yaa, Bunda. Salam sehat.





 









You May Also Like

0 komentar

Terima kasih sudah meninggalkan jejak. Untuk mendapatkan kunjungan balik, silakan gunakan Name/URL. Komentar akan dipublikasi setelah dimoderasi. Komentar berupa link aktif atau spam tidak akan muncul.

Recommended for You

loading...
Copyright 2017.Blog dr.Dini.All Right Reserved. Powered by Blogger.