Penyakit Akibat Perut Buncit

by - April 08, 2016

obesitas abdominal

Blog dr.Dini - Perut buncit bukan saja membuat kita tidak pe-de namun juga bisa mengantarkan berbagai penyakit.

Perut buncit atau disebut Fat Belly/Abdominal Obesity, karena penimpunan lemak di bawah kulit (subcutaneous) dan di organ-organ dalam perut (Visceral organs) sangat tidak baik secara kosmetis.

Namun di samping alasan kosmetis, ternyata perut buncit berhubungan dengan peningkatan angka kejadian sindrom metabolik.

Sindrom metabolik adalah sekelompok faktor risiko yang meningkatkan angka kejadian penyakit jantung atau problema kesehatan lainnya.

Penyakit yang dikatakan meningkat akibat penumpukan lemak dalam perut (Abdominal Obesity) di antaranya sbb.


1. Penyakit Akibat Perut Buncit : Diabetes dan Prediabetes

 

Diabetes dan komplikasinya merupakan penyebab kematian nomor 3 tertinggi, setelah Stroke dan penyakit jantung, di Indonesia berdasarkan data Litbang Kompas, dari KemenKes tahun 2014.


Diabetes diketahui dengan pemeriksaan darah, sedangkan prediabetes dengan pemeriksaan TTGO (Tes Toleransi Glukosa Oral).

2. Penyakit Akibat Perut Buncit : Dislipidemia dan Hiperkolesterolemia


Dislipidemia diketahui dengan pemeriksaan darah puasa, di mana terjadi peningkatan kadar trigliserida, peningkatan kadar LDL (Low Density Lipid), dan Penurunan kadar HDL (High Density Lipid). Sedangkan hiperkolesterolemia ditandai dengan peningkatan LDL saja.


3. Penyakit Akibat Perut Buncit : Penyakit Jantung

 

Penyakit jantung akibat penumpukan lemak perut yang akhirnya menyebabkan profil lemak darah yang tidak normal dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan penumpukan plak lemak dalam dinding pembuluh darah jantung, menimbulkan atherosclerosis. 


Penyakit jantung juga dapat disebabkan akibat tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol, karena orang tersebut tidak menyadari adanya hipertensi, yang akhirnya menimbulkan Hypertension Heart Disease (HHD).

4. Penyakit Akibat Perut Buncit : Hipertensi


Hipertensi adalah suatu keadaan ketika dilakukan usaha untuk menurunkan tekanan darah akan memberikan manfaat lebih besar dibandingkan bila tidak melakukan usaha penurunan tekanan darah tersebut.


Menurut Riskesdas 2007, dari angka kejadian hipertensi 31,7 % , di mana hanya 0,4% yang meminum obat anti hipertensi.

Pada orang dengan perut buncit (abdominal obesity) sebaiknya periksakan tekanan darah dan segera melakukan program penurunan berat badan.


Penimbunan lemak perut (abdominal adiposal tissue ) dapat dinilai dengan pemeriksaan radiologi atau dengan pemeriksaan fisik yang lebih sederhana, mudah, cepat, ekonomis, dan cukup bermakna yaitu dengan pengukuran lingkar pinggang (waist circumference).

Laki-laki dengan lingkar pinggang 102 dan Wanita dengan lingkar pinggang 88cm atau lebih, dipertimbangkan mempunyai risiko tinggi terjadinya penyakit-penyakit metabolik tersebut di atas.

BMI > 30 baru bisa dikatakan obesitas, namun di Indonesia, BMI > 27 sudah meningkatkan risiko kematian akibat sindrom metabolik ini.

BMI > 27, disertai dengan lingkar pinggang tersebut di atas, akan  meningkatkan angka kejadian sindrom metabolik ini, meskipun saat diperiksa darah, semua hasil normal. Namun, yang namanya proses kerusakan tubuh itu memang tidak berasa.

Pic : dimodifikasi dari flickr.com


You May Also Like

0 komentar

Terima kasih sudah meninggalkan jejak. Untuk mendapatkan kunjungan balik, silakan gunakan Name/URL. Komentar akan dipublikasi setelah dimoderasi. Komentar berupa link aktif atau spam tidak akan muncul.

Recommended for You

loading...
Copyright 2017.Blog dr.Dini.All Right Reserved. Powered by Blogger.