HIV AIDS : Cara Penularan, Gejala, Dan Pengobatan

by - April 15, 2016

Gejala HIV AIDS

Web Bunda - Ketahuilah, Bunda, HIV AIDS jumlahnya semakin lama semakin banyak. Meski penyakit ini bukan tergolong penyakit yang baru, mari kita review lagi tentang HIV AIDS ini.

Kasus pertama AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) di Indonesia ditemukan di Bali pada tahun 1987.

Sebenarnya kasus AIDS sudah pernah dilaporkan oleh Zubairi Djoerban pada tahun 1986 di Jakarta. Namun karena saat itu belum ada pemeriksaan western blot jadi kasus tersebut tidak tercatat di Kemenkes.



Pada akhir tahun 1998, UNAIDS (United Nations Programme on AIDS) mencatat 33,4 juta orang yang hidup dengan HIV AIDS di antaranya terdapat 13,8 juta perempuan dan anak usia di bawah 15 tahun sebanyak 1,2 juta orang.

Sekitar 95%, penderita HIV AIDS berada dalam negara berkembang.

Jumlah penderita HIV AIDS di Indonesia cukup mengkhawatirkan. Statistik kasus HIV AIDS yang tercatat di Dirjen PP dan PL KEMENKES RI adalah :
  • Jumlah kasus HIV AIDS yang dilaporkan secara kumulatif  sejak tanggal 1 Januari 1987 sampai dengan 30 September 2014 adalah sebanyak 150296 HIV positif dan 55799 untuk AIDS.
CARA PENULARAN HIV AIDS :

AIDS disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus). Ada dua jenis virus HIV yaitu HIV-1 dan HIV-2. Pada infeksi virus HIV-1, AIDS yang timbul lebih cepat.

HIV berkembang biak di sel limfosit T, yaitu CD4.

Penularan HIV terjadi melalui :
  1. hubungan seksual,
  2. transfusi darah,
  3. jarum suntik,
  4. dari ibu hamil pada janinnya.
Tingkat penularan paling tinggi adalah melalui transfusi darah. Namun cara penularan HIV AIDS yang paling menjadi sorotan saat ini adalah penggunaan jarum suntik bersama di kalangan pencandu narkotika.

Jumlah kasus infeksi HIV AIDS ini meningkat tajam sejak tahun 1999 inipun akibat banyaknya penggunaan narkoba yang menggunakan jarum tidak steril.

Pendekatan agama dan penyuluhan kesehatan sangat diperlukan untuk mencegah penularan HIV AIDS yang mengkhawatirkan. Dengan memperkuat ajaran agama dan nilai-nilai budaya diharapkan perilaku seks bebas dan penggunaan narkotika dapat dikurangi.

GEJALA HIV AIDS

Seseorang yang terinfeksi HIV akan mengalami masa tanpa gejala selama 5 tahun sampai 10 tahun. Pada saat ini, resiko penularan yang terjadi sangat memungkinkan karena orang tersebut dan orang terdekat yang berada di sekitarnya tidak menyadari bahwa dirinya tengah 'sakit'.

Untuk mengetahui apakah seseorang terinfeksi HIV perlu dilakukan tes darah. Jika tes darah ini dilakukan untuk keperluan diagnostik, maka tes ini harus dilakukan secara sukarela dan harus dijaga kerahasiaannya untuk melindungi penderita HIV AIDS dari stigma negatif dari masyarakat.

Gejala klinis HIV AIDS yang sering terjadi di RSUPN dr.Cipto Mangunkusumo adalah sbb :
  1. Demam lama 100%,
  2. Batuk 90,3%,
  3. Penurunan berat badan 80,7%,
  4. Sariawan dan nyeri menelan 78,8%
  5. Diare 69,2%
  6. Sesak napas 40,4%
  7. Pembesaran Kelenjar Getah Bening 28,8%
Penurunan kesadaran 17,3%
  1. Gangguan penglihatan 15,3%
  2. Neuropati 3,8%
  3. Ensefalopati 4,5%
Infeksi oportunistik yang sering dijumpai adalah sbb :
  1. Kandidiasis mulut-esofagus (jamur bercak putih) 80,8%
  2. TBC 40,1%
  3. CMV (Cyto Megalo Virus) 40,1%
  4. Pneumonia rekuren (radang paru berulang) 28,8%
  5. Ensefalitis Toxoplasma (radang otak) 17,3%
  6. Pneumonia P.carinii 13,4%
  7. Herpes simpleks 9,6%
PENGOBATAN HIV AIDS

Pengobatan HIV AIDS terbagi dalam :
  1. Pengobatan suportif
  2. Pengobatan infeksi oportunistik
  3. Obat antiretroviral
1. Pengobatan Suportif

Pengobatan suportif adalah pengobatan untuk meningkatkan keadaan umum pasien seperti pemberian gizi yang sesuai, obat-obatan yang sesuai dengan gejala, dan vitamin.

Dukungan moral dan pengobatan mental/psikologis juga sangat diperlukan bagi penderita. Adanya dukungan psikososial dari keluarga dan sahabat terdekat sangat mempengaruhi kondisi fisik dan psikis penderita HIV AIDS.

2. Pengobatan infeksi oportunistik

Infeksi oportunistik ini adalah infeksi yang seharusnya tidak terjadi pada seseorang yang memiliki daya tahan tubuh baik. Pada penderita HIV AIDS daya tahan tubuh menurun sehingga infeksi oportunistik ini terjadi.

Pola infeksi oportunistik ini tergantung pada pola bakteri yang terdapat pada lingkungan sekitar penderita.

Karena di negeri kita yang paling sering dijumpai adalah infeksi jamur, TBC, toxoplasma, herpes, dan sitomegalovirus, jadi infeksi inilah yang sering terjadi pada penderita HIV AIDS.

Biasanya akibat infeksi oportunistik ini, seseorang penderita HIV AIDS akan membutuhkan obat yang lebih kuat dan jangka waktu pengobatan yang lebih lama, karena daya tahan tubuh yang menurun.

Seringkali infeksi oportunistik yang dialami penderita HIV AIDS terjadi 2 sampai 3 infeksi sekaligus.

3. Pengobatan kanker terkait AIDS

Kanker yang terkait AIDS adalah sarkoma kaposi, limfoma malignum, dan karsinoma serviks invasif. Jadi pengobatannya disesuaikan dengan standar terapi penyakit kanker tersebut.

4. Obat Antiretrovirus (ARV)

Obat ARV bertujuan untuk mengurangi sampai menghilangkan virus HIV dalam tubuh. Kombinasi obat ARV dapat menurunkan virus HIV dalam darah secara tajam.

Obat ARV ini memberikan harapan hidup dan kualitas hidup yang lebih baik pada penderita HIV AIDS.

Demikianlah , Bunda, review kita tentang HIV AIDS.

Semoga bermanfaat, ya, Bunda.

You May Also Like

0 komentar

Terima kasih sudah meninggalkan jejak. Untuk mendapatkan kunjungan balik, silakan gunakan Name/URL. Komentar akan dipublikasi setelah dimoderasi. Komentar berupa link aktif atau spam tidak akan muncul.

Recommended for You

loading...
Copyright 2017.Blog dr.Dini.All Right Reserved. Powered by Blogger.