10 Tips Mengatasi Diare pada Si Kecil

by - April 29, 2016

diare

Web Bunda - Bunda, hampir setiap anak balita, terutama balita di bawah usia 2 tahun, pernah mengalami diare. 

Tips mengatasi diare pada Si Kecil sangat penting diketahui agar Bunda mempunyai gambaran tindakan apa yang mesti dilakukan di rumah sebelum membawanya berobat ke Dokter.

Inilah 10 tips mengatasi diare pada anak balita.

1. KETAHUI KEMUNGKINAN PENYEBABNYA

Penyebab diare terbanyak pada anak balita adalah infeksi virus, infeksi bakteri, intoleransi laktosa, alergi susu sapi, dan keracunan makanan. Saat Bunda mengetahui penyebabnya, tentu akan lebih jelas jenis penanganan seperti apa yang akan diperlukan.

Jika si kecil diare tiap kali ia minum susu sapi, kemungkinan ia mengalami intoleransi laktosa. Gejalanya hampir sama dengan alergi susu sapi yaitu diare setelah mengkonsumsi susu sapi, hanya saja pada intoleransi laktosa kejadian diare berlangsung segera setelah minum susu sapi.

Sedangkan pada alergi susu sapi, diare terjadi setelah minum susu sapi beberapa kali. Gejala diare akibat alergi susu sapi juga disertai gatal dan ruam (kemerahan) pada kulit.

Selain penyebab diare karena intoleransi laktosa dan alergi susu sapi, terbanyak memang akibat infeksi virus atau bakteri.

2. BERIKAN PENGOBATAN SUPORTIF

Berikan pengobatan suportif pada si kecil jika penyebabnya adalah infeksi virus. Diare akibat infeksi virus (Rotavirus) bersifat dapat sembuh sendiri (self limiting disease). Karena itu, pada diare karena infeksi virus hanya diberikan obat-obatan suportif yang sesuai dengan gejala yang timbul.

Misalnya, di samping diare, Si Kecil juga mengalami demam dan muntah, maka ia diberikan obat anti demam dan obat anti muntah.

Diare yang disebabkan karena infeksi virus biasanya adalah diare yang ditandai dengan :
  1. konsistensi cair tanpa perubahan yang jelas misalnya adamya lendir, darah, atau feses seperti air cucian beras, 
  2. dapat sembuh sendiri meskipun tanpa pengobatan, lama penyembuhan tergantung daya tahan tubuh, dan
  3. dapat disertai demam, nyeri perut, dan dehidrasi.
Mekanisme diare karena virus adalah di mana sel-sel vili usus tidak dapat menyerap makanan/zat-zat nutrisi dengan baik, kinerja usus meningkat (hiperperistaltik) akibat adanya infeksi virus, sehingga makanan dan zat-zat nutrisi terdorong keluar.

3. ANTIBIOTIKA HANYA UNTUK DIARE KARENA BAKTERI

Antibiotika hanya diberikan untuk diare yang disebabkan oleh bakteri/kuman. Jadi, Bunda, mohon hati-hati, jangan sampai sembarangan memberikan Si Kecil antibiotika saat ia diare tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan Dokter.

Diare akut yang disebabkan karena bakteri dapat bersifat invasif maupun non invasif. Diare non invasif terjadi saat zat racun/toksin dari bakteri mempengaruhi permukaan (mukosa) usus halus tanpa merusaknya, sedangkan diare invasif terjadi saat bakteri/kuman sudah merusak permukaan mukosa usus halus sehingga terjadi perlukaan.

Pada diare non invasif, yaitu diare karena toksin dari bakteri, penampakan feses cair berwarna putih seperti air cucian beras. Sedangkan pada diare invasif, yaitu diare karena bakteri, feses yang cair disertai lendir dan darah.

4. TUNTASKAN KONSUMSI SUPLEMEN ZINC SELAMA 10 HARI

Berikan suplemen yang mengandung Zinc pada anak yang sedang diare. Terlepas dari diare akibat infeksi virus, bakteri, intoleransi laktosa, keracunan makanan, atau alergi susu sapi, suplemen Zinc boleh diberikan.

Memang suplemen Zinc biasa diberikan untuk pengobatan diare di pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) atau fasilitas kesehatan lainnya.

Sebenarnya suplemen Zinc ini merupakan sebuah mikronutrien yang jika diberikan saat Si Kecil diare, akan memberikan manfaat yang signifikan dalam memperpendek masa terjadinya diare sehingga diare cepat membaik.

Zinc juga mampu mencegah kekambuhan diare dalam waktu singkat, dengan catatan, pemberian Zinc ini dilakukan dan dikonsumsi selama 10 hari berturut-turut.

5. BERIKAN PROBIOTIK KHUSUS UNTUK ANAK

Pemberian probiotik pada anak balita yang tengah diare terbukti ampuh membantu penyembuhan diare dengan cepat. Saat ini, banyak produk probiotik khusus anak yang terkemas dalam berbagai bentuk. Biasanya kemasan probiotik khusus anak dalam bentuk serbuk.

Probiotik khusus anak berbentuk serbuk ini dapat dicampurkan pada susu, jus buah, ataupun bubur. Probiotik ini biasanya disimpan di dalam kulkas.

Probiotik ini mengandung 'bakteri baik' yang berfungsi melawan 'bakteri jahat' atau virus yang menyebabkan diare. Probiotik tersebut akan mendorong keluar 'bakteri jahat' dan virus yang mengganggu keseimbangan lingkungan dalam usus kemudian memperbaiki kondisi di dalam usus.

Probiotik khusus anak berbentuk serbuk bisa dibeli sendiri di apotek. Biasanya probiotik ini diberikan selama 3 hari pada Si Kecil dan diare pun segera berhenti. Jika setelah 3 hari, diare tak kunjung sembuh atau telah terdapat tanda-tanda dehidrasi, segeralah bawa Si Kecil berobat ke Dokter.

Meskipun, diare dapat sembuh sendiri dalam jangka waktu tertentu, seperti misalnya diare karena infeksi virus, namun bahaya dehidrasi yang terjadi seringkali mengharuskan kita segera membawa Si Kecil ke Dokter.

6. STOP ATAU ENCERKAN SUSU FORMULA

Jika buah hati Bunda mengkonsumsi susu formula dan dapat dipastikan ia terkena alergi susu sapi atau intoleransi laktosa, maka keputusan untuk mengganti susu formula yang rendah laktosa atau bebas laktosa dapat dipertimbangkan.

Hal ini lebih baik daripada memutuskan untuk menghentikan pemberian susu formula yang bisa saja mempengaruhi kecukupan asupan gizi Si Kecil.

Sedangkan pada diare karena infeksi atau keracunan makanan ,biasanya Dokter Spesialis Anak menyarankan untuk mengencerkan susu formula yang biasa diberikan untuk Si Kecil.

Tujuannya untuk mempermudah proses penyerapan di dalam usus karena pada diare proses penyerapan nutrisi dalam usus sedang terganggu.

7. MAKAN DAN MINUM SEDIKIT-SEDIKIT TAPI SERING

Karena pada diare, proses penyerapan nutrisi sedang terganggu, alangkah baiknya jika saat memberikan makan dan minum untuk Si Kecil dibuat sedikit-sedikit namun frekuensinya lebih sering, Bunda.

Pada anak yang sedang diare, jika diberikan makanan dalam jumlah banyak, dikhawatirkan nutrisi yang terkandung dalam makanan tersebut tidak akan terserap sepenuhnya di dalam usus, dan lebih banyak akan segera dikeluarkan melalui feses.


Makanan yang diberikan sedikit-sedikit namun sering diharapkan dapat membantu proses penyerapan di dalam usus yang sedang terganggu ini.

Demikian juga, pemberian makanan dalam konsistensi yang lebih lunak (bubur) daripada biasanya dapat membantu proses penyerapan di dalam usus.

8. JANGAN LUPAKAN PEMBERIAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT

Saat anak balita diare, yang banyak dibuang bukan hanya air saja, namun juga berbagai macam nutrisi makanan, dan terutama elektrolit. Ketika elektrolit banyak terbuang karena diare, Si Kecil dapat mengalami dehidrasi.

Dehidrasi adalah penyebab kematian terbanyak pada anak balita yang terserang diare, di samping infeksi yang menyertai diare. Oleh karena itu, Bunda, mohon jangan abaikan elektrolit.

Jangan lupakan keberadaan elektrolit sangat penting dalam penanganan diare di rumah. Berikan oralit pada Si Kecil untuk mencegah terjadinya dehidrasi. Pemberian oralit sangat mudah dan harganya pun sangat murah.

Namun, karena faktor ketidaktahuan, banyak ibu yang terlambat menangani diare ini di rumah sehingga membawa anak balitanya sudah dalam keadaan dehidrasi berat bahkan karena proses dehidrasinya sudah membawa banyak kerusakan tubuh akhirnya anak balita tersebut harus meninggal hanya karena diare.

9. JANGAN BERIKAN OBAT ANTI DIARE

Bunda, sekali-kali jangan berikan obat anti diare dewasa untuk anak balita Bunda. Pemberian obat anti diare untuk anak balita sudah lama tidak dianjurkan. Batas usia pemberian obat anti diare adalah usia 6 tahun dengan dosis ; setengah dosis orang dewasa.

Mengapa obat anti diare sangat tidak dianjurkan untuk anak balita?

Sebenarnya, diare pada anak balita terjadi karena adanya proses pertahanan tubuh anak untuk mengeluarkan zat-zat racun, bakteri, virus, yang membahayakan bagi tubuh.

Episode terjadinya diare pada anak balita menjadi lebih lama karena daya tahan tubuh anak balita belum sepenuhnya sempurna.

Jika pada anak balita yang sedang diare ini diberikan obat anti diare, maka proses pengeluaran zat-zat racun, virus, bakteri, yang mungkin saja belum selesai, akan berhenti secara paksa.

Akibatnya virus atau bakteri yang tertinggal dalam usus akan dengan bebasnya berkembang biak menjadikan proses infeksinya berlanjut. Dan racun-racun yang belum sepenuhnya keluar dari tubuh sekarang akan tertahan dalam usus.

Tertahannya bakteri, virus, atau zat racun dalam usus Si Kecil ini akan menimbulkan gejala kembung, mual, nyeri perut, konstipasi, dan demam.

10. HINDARI MAKANAN YANG DAPAT MENGIRITASI SALURAN PENCERNAAN

Ketika anak balita diare, hindarilah makanan yang dapat mengiritasi saluran pencernaan misalnya makanan asam, pedas, makanan kaleng, atau makanan instan. Berikanlah makanan alami yang kaya gizi dengan tekstur yang lebih lunak.

Demikianlah 10 tips mengatasi diare pada Si Kecil. Semoga bermanfaat ya, Bunda.














You May Also Like

0 komentar

Terima kasih sudah meninggalkan jejak. Untuk mendapatkan kunjungan balik, silakan gunakan Name/URL. Komentar akan dipublikasi setelah dimoderasi. Komentar berupa link aktif atau spam tidak akan muncul.

Recommended for You

loading...
Copyright 2017.Blog dr.Dini.All Right Reserved. Powered by Blogger.